Nama : Hanson Abraham
NIM
: 1801378184
Hari, tanggal: Rabu, 15 Oktober 2014
Kegiatan : Bimbingan Belajar
Kedua…dimulai
Hari kedua ku dalam melaksanakan bimbingan belajar
semakin lancar. Seiring berjalannya waktu, kepercayaan diriku dalam mengajar
semakin meningkat. Tak hanya itu, banyak sekali ilmu yang kudapatkan dengan
mengajarkan orang lain…
Di pertemuan kedua ini, aku sedikit lesu dan tidak
bersemangat. Namun, setelah melihat anak didik ku, Nadya datang dan berbaris
bersama teman-temannya di lobi perpustakaan, aku berpikir bahwa demi
menjalankan tugas mulia ini, aku tidak boleh egois. Kakak volunteer sempat memberi kami, para pengajar kelas Character Building briefing sekali lagi agar kami tidak melupakan segala peraturan dan
ketentuan mengajar yang berlaku. Setelah briefing usai, kami diminta untuk
menjemput anak didik kami masing-masing yang sudah berbaris rapi. Aku segera
menuju ke barisan Nadya berada dan mengajaknya untuk ikut dengan ku, tetapi
(mungkin) dia gugup dan menolak ajakan ku. Aku sempat kebingungan harus berbuat
apa. Ingin memaksa, tapi terkesan kasar. Ternyata, ibu nya berdiri tengah
berdiri di belakang dan melihat kejadian itu. Sang ibu segera menghampiri kami
dan menasehati Nadya agar mau mengikuti kegiatan bimbingan belajar dengan baik.
Untunglah Nadya menurut dan mengikuti ku. Ruangan tempat mengajar kami saat itu
adalah ruangan no. 314. Beberapa anggota kelompok ku juga mengajar di ruangan
yang sama. Terlihat, Nadya masih gugup dan bergandengan tangan dengan sesama
nya untuk mengurangi rasa itu di sepanjang
perjalanan kami menuju ruangan kami.
Sampailah kami pada ruangan no. 314. Aku membiarkan
Nadya memilih tempat duduk yang nyaman untuk nya. Ternyata, Ia memilih tempat
duduk yang dekat dengan teman-temannya. Kebetulan, para pengajar teman-temannya
juga merupakan teman-teman yang sudah ku kenal. Aku berpikir bahwa dengan
posisi duduk seperti ini, Nadya tidak akan gugup lagi denganku. Setelah kakak volunteer mempersilakan kami untuk
memulai bimbingan belajar, aku membukanya dengan perkenalan diri, karena minggu
lalu aku lupa melakukannya. Ternyata Nadya masih malu-malu, “Wah…susah juga
membuat anak ini percaya diri”, pikirku. Seperti biasa, aku menanyakan apakah
Ia mempunya PR atau bagian pelajaran yang tidak Ia mengerti. Dengan malu-malu,
Ia mengatakan tidak. Lalu, aku menanyakan lagi tentang sejauh apa materi yang
telah diajarkan di sekolah. Untuk mengurangi rasa malunya, Ia menatap temannya
sambil tersenyum dan menjawab, “Ngga tau..”. Aku sempat bingung juga ingin
mengajarkan apa kepadanya hari ini. Aku segera mengambil keputusan untuk
memberi nya review materi minggu lalu
dengan 5 soal. Aku sempat memberitahu nya, “Kalo ada yang bingung atau ga’
bisa, tanya kakak aja ya”. Ia tidak menjawab, mungkin masih grogi. Dalam mengerjakan soal-soal yang
kuberikan, perhatiannya sempat teralihkan oleh soal-soal yang dikerjakan
teman-temannya. Mungkin karena posisi duduknya berdekatan. Aku sempat berpikir
bahwa sulit juga kalau begini. Alhasil, Nadya sangat lama dalam mengerjakan
soal-soal ku. Tanpa ambil pusing, aku menanyakan apakah ada yang sulit atau
bingung. “Nanti kalau aku hanya membiarkannya sendiri, kepalanya malah pusing”,
pikirku. Setelah selesai mengerjakan kelima soal tersebut. Aku memberinya
latihan soal lagi untuk memperlancar pengurangan dan perkaliannya. Dalam
mengerjakan soal-soal yang kuberi, perhatiannya sering terganggu oleh
teman-temannya. Nadya menjadi sangat lambat dalam mengerjakan soal-soal ku,
belum lagi rasa grogi dan
ketidaklancarannya dalam perkalian dan pengurangan. Walau begitu, aku tetap
sabar menunggunya menyelesaikan soal. Kalau terlalu lama, aku membantunya dan
berusaha memberi tips perhitungan yang mudah dipahami oleh nya. Yang sangat
sulit adalah memberitahu cara berhitung yang sederhana dan sesuai untuknya.
Selama, 1 setengah jam aku mengajarkan Nadya matematika.
Mulai dari review materi minggu lalu
sampai pada materi baru yaitu pembagian. Sangat sulit untuk mengajarkannya
pembagian berhubung perkaliannya yang belum lancar. Aku pun memakai ilustrasi
yang menarik dalam pembagian. Ibarat sebuah kue yang dibagi-bagikan, itulah
ilustrasi yang kupakai. Ternyata, metode tersebut sangat ampuh. Aku memulai
dengan pembagian yang sederhana dan Nadya mampu menghitungnya dengan cepat.
Benar-benar suatu kemajuan.
Sisa 30 menit ku isi dengan pelajaran bahasa Inggris.
Minggu lalu, aku sempat membuka latihan Inggris di sekolah nya untuk mencari
tahu, kira-kira sudah diajarkan sampai mana. Ternyata, banyak juga vocabulary yang telah dipelajari.
Setelah “berkonsultasi” dengan teman-temanku, aku memutuskan untuk mengajarinya
vocabulary dalam tingkat yang lebih
sulit. Aku memberikannya latihan vocab.
benda-benda yang mungkin belum diajarkan di sekolah.
Jam
bimbingan belajar hampir usai, kami diizinkan untuk mengambil foto kegiatan
kami. Aku meminta tolong bantuan temanku untuk mem-foto kami berdua. Nadya
terlihat sedikit malu, tetapi mau juga untuk difoto. 

Sebelum jam pulang, aku memberi Nadya PR
Inggris tentang benda-benda langit. Aku harap Ia mampu mengerjakannya dan
menghafalnya semua vocab. yang telah
kuajarkan.
Seperti yang telah ku tulis di paragraf awal, hari
ini berjalan lancar. Semula aku yang tidak bersemangat menjadi antusias dalam
mengajarkan. Entah kenapa, aku semakin sayang pada Nadya, seperti punya anak
sendiri. Sayang, di akhir aku tak sempat menemaninya menemui orang tuanya
karena harus mengikuti evaluasi volunteer
dari kelas character building.
Aku benar-benar bangga bisa melakukan tugas mulia
ini. Pengajaran ini mungkin saja langkah pertama perubahanku dan perubahan negara
Indonesia. Pancasila saja tak cukup bila tak dilakukan. Aku merasakan setiap
sila itu berlaku dalam segala aspek kehidupan dan dalam hal ini, sila kedua,
ketiga, dan kelima sangat kental dalam hal pengajaran. Keadilan, itulah yang
dibutuhkan mereka yang haus akan kebenaran. Persatuan demi kekompakan dalam
memajukan bangsa ini, dan keberadaban manusia untuk saling menghargai dan tanah
bagi tumbuhnya kepedulian kepada sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar