Nama : Hanson Abraham
NIM
: 1801378184
Hari, tanggal: Rabu, 5 November 2014
Kegiatan : Bimbingan Belajar
Kami bersama peserta dan teman-teman
ku yang lain melakukan pengajaran di tempat yang berbeda. Kalau biasanya kami
mengadakan pengajaran di kelas, kali ini kami mengajar di lobi food court yang sudah beralaskan karpet
halus. Aku segera memulai pembelajaran dengan menanyakan apakah ada PR atau
pelajaran yang sulit. Dengan malu-malu, Ia menjawab tidak. Kegugupannya
bertambah saat aku memilih tempat yang jauh dari temannya, Zahra. Aku berusaha
menenangkannya dengan menampilkan wajah yang bersahabat. Berhubung ini adalah
pertemuan terakhir ku, aku memberi berbagai soal latihan matematika yang telah
kuajarkan. Dimulai dari pertambahan sampai pembagian, pengenalan berbagai objek
sederhana, dan juga deret angka. Dari review
tersebut, ternyata Nadya masih kurang mampu dalam menggambarkan beberapa
objek tertentu dan deret angka. Tak apa, itulah gunanya seorang guru. Tak hanya
mengajar, tetapi juga mengarahkan dan membantu kemajuan seorang murid. Aku juga
menambahkan materi terakhir ku, yaitu membaca dan menggambarkan jam. Hal yang
asing sekaligus sulit bagi Nadya. Ia mempunyai jiwa perfeksionis, sehingga Ia
kerap kali menghapus lingkaran yang telah dibuatnya bila ada kecacatan sedikit
saja. Aku memberitahu nya, tidak masalah kalau lingkaran jam tidak bagus. Ia
menurut, kami pun melanjutkan pengajaran kami. Ternyata, Ia sudah mengerti Pk 13.00
sampai Pk 24.00, hanya saja masih sulit dalam penggambaran jam dengan jarum
pendek dan panjang. Setelah Nadya sudah cukup menguasai pembelajaran jam, tak
terasa 1 jam lebih kami bergumul dalam matematika. Aku membiarkannya istirahat
dan minum. Selama pembelajara, Nadya terlihat sedikit tidak sehat. Ia sering
batuk-batuk dengan dahak. Kali ini Ia minum lebih banyak dari biasanya yang
hanya 1 kali.
Setelah istirahat usai, kami
melanjutkan pembelajaran dengan Bahasa Inggris. Kali ini, aku tak memberinya materi/vocabulary baru karena di sekolahnya,
Nadya mendapat cukup banyak vocabulary,
tetapi belum mampu membacanya dengan benar. Jadi, untuk membantu reading skill nya, aku memberikan
catatan cara membaca setiap vocab.
yang sudah didapatkannya.
Aku sangat senang selama mengajar.
Menjadi suatu kebenaran bila diamati dengan teliti, aku bukanlah pribadi yang
gemar mengajar. Setiap pertemuan mengajar yang harus kuhadiri, aku merasa malas
dan tak semangat. Selain itu, aku bukanlah seorang yang konsisten melakukan
segala sesuatu yang ditentukan secara teratur. Bahkan kegiatan sebelumnya, aku
lebih sering bolos. Namun, aku tersadar bahwa seorang guru haruslah memberi
contoh dan teladan pada muridnya. Seorang guru haruslah bersemangat dalam
menyebarkan bibit ilmu pada generasi penerus bangsa yang kelak berpotensi
memajukan dan menyejahterahkan Indonesia. Karena itu, rasa malas kerap kali ku
lawan. Aku tak menyesal, malah penuh rasa syukur telah mendapat pengalaman yang
luar biasa bersama TFI dan Nadya. Aku mengucapkan syukur pada TFI yang telah
memberikan ku kesempatan untuk berusaha memiliki pribadi dan cerminan seorang
guru yang baik dalam bersikap dan bertutur kata. Walau metode belajar ku masih
belum efektif, aku ingin mengemvangkan cara mengajar yang baik, seru, dan
menekankan pada pemahaman sang murid. Tak hanya selesai mengejar materi.
Melalui program ini, ada kebanggaan
tersendiri ketika diri ku tersadar betapa banyaknya nilai-nilai pembentukan
karakter yang kudapat. Khususnya nilai yang bersandar pada Pancasila. Ya,
inilah yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lainnya. Melalui belajar,
kita mengamalkan esensi Ketuhanan dalam menyebarkan dan memajukan ilmu untuk
umat-Nya, esensi kemanusiaan untuk membentuk manusia yang beradab dan
senantiasa menegakkan keadilan. Ilmu pun juga mengajarkan bahwa dengan bersatu,
manusia mampu menaklukkan hal yang sangat sulit sekalipun. Akhirnya, ilmu dan
pembelajaran akan membentuk suatu negara yang demokratis, di mana di dalamnya
setiap pendapat rakyat yang diwakili sekalipun dipandang dan dihargai.
Sudahkah setiap guru di sekolah
berusaha mewujudkan hal tersebut? Karena kerap kali, dengan kurikulum baru yang
telah diterapkan, seorang guru lebih gencar menyelesaikan materi dibanding
memberi pemahaman yang proporsional pada murid-murid. Jadi, saran saya
sebaiknya, guru harus mampu memandang dan mengukur kemampuan seorang murid.
Dengan demikian, Ia mampu membentuk silabus pengajaran yang pantas untuk
murid-muridnya. Seperti anak didik kelas 2 SD, tentu hal yang merepotkan bila
guru menekankan pada inisiatif anak untuk mencari tahu sendiri hal-hal yang
baru dikenalnya. Sebelum menginjak usia dewasa, sebagian besar murid SD lebih
banyak mengandalkan dan meniru contoh-contoh dari kejadian di sekitarnya.
Dengan kata lain, mereka masih mudah dimanipulasi/diubah pengertiannya. Jadi,
untuk guru-guru, berikanlah contoh yang urut dan mudah dimengerti dalam
memberikan pengajaran.


