Minggu, 16 November 2014

Nama           : Hanson Abraham
NIM             : 1801378184
Hari, tanggal: Rabu, 5 November 2014
Kegiatan      : Bimbingan Belajar

                                                                               Tepukan 5
  
            Kami bersama peserta dan teman-teman ku yang lain melakukan pengajaran di tempat yang berbeda. Kalau biasanya kami mengadakan pengajaran di kelas, kali ini kami mengajar di lobi food court yang sudah beralaskan karpet halus. Aku segera memulai pembelajaran dengan menanyakan apakah ada PR atau pelajaran yang sulit. Dengan malu-malu, Ia menjawab tidak. Kegugupannya bertambah saat aku memilih tempat yang jauh dari temannya, Zahra. Aku berusaha menenangkannya dengan menampilkan wajah yang bersahabat. Berhubung ini adalah pertemuan terakhir ku, aku memberi berbagai soal latihan matematika yang telah kuajarkan. Dimulai dari pertambahan sampai pembagian, pengenalan berbagai objek sederhana, dan juga deret angka. Dari review tersebut, ternyata Nadya masih kurang mampu dalam menggambarkan beberapa objek tertentu dan deret angka. Tak apa, itulah gunanya seorang guru. Tak hanya mengajar, tetapi juga mengarahkan dan membantu kemajuan seorang murid. Aku juga menambahkan materi terakhir ku, yaitu membaca dan menggambarkan jam. Hal yang asing sekaligus sulit bagi Nadya. Ia mempunyai jiwa perfeksionis, sehingga Ia kerap kali menghapus lingkaran yang telah dibuatnya bila ada kecacatan sedikit saja. Aku memberitahu nya, tidak masalah kalau lingkaran jam tidak bagus. Ia menurut, kami pun melanjutkan pengajaran kami. Ternyata, Ia sudah mengerti Pk 13.00 sampai Pk 24.00, hanya saja masih sulit dalam penggambaran jam dengan jarum pendek dan panjang. Setelah Nadya sudah cukup menguasai pembelajaran jam, tak terasa 1 jam lebih kami bergumul dalam matematika. Aku membiarkannya istirahat dan minum. Selama pembelajara, Nadya terlihat sedikit tidak sehat. Ia sering batuk-batuk dengan dahak. Kali ini Ia minum lebih banyak dari biasanya yang hanya 1 kali.

            Setelah istirahat usai, kami melanjutkan pembelajaran dengan Bahasa Inggris. Kali ini, aku tak memberinya materi/vocabulary baru karena di sekolahnya, Nadya mendapat cukup banyak vocabulary, tetapi belum mampu membacanya dengan benar. Jadi, untuk membantu reading skill nya, aku memberikan catatan cara membaca setiap vocab. yang sudah didapatkannya. 

            Aku sangat senang selama mengajar. Menjadi suatu kebenaran bila diamati dengan teliti, aku bukanlah pribadi yang gemar mengajar. Setiap pertemuan mengajar yang harus kuhadiri, aku merasa malas dan tak semangat. Selain itu, aku bukanlah seorang yang konsisten melakukan segala sesuatu yang ditentukan secara teratur. Bahkan kegiatan sebelumnya, aku lebih sering bolos. Namun, aku tersadar bahwa seorang guru haruslah memberi contoh dan teladan pada muridnya. Seorang guru haruslah bersemangat dalam menyebarkan bibit ilmu pada generasi penerus bangsa yang kelak berpotensi memajukan dan menyejahterahkan Indonesia. Karena itu, rasa malas kerap kali ku lawan. Aku tak menyesal, malah penuh rasa syukur telah mendapat pengalaman yang luar biasa bersama TFI dan Nadya. Aku mengucapkan syukur pada TFI yang telah memberikan ku kesempatan untuk berusaha memiliki pribadi dan cerminan seorang guru yang baik dalam bersikap dan bertutur kata. Walau metode belajar ku masih belum efektif, aku ingin mengemvangkan cara mengajar yang baik, seru, dan menekankan pada pemahaman sang murid. Tak hanya selesai mengejar materi.

            Melalui program ini, ada kebanggaan tersendiri ketika diri ku tersadar betapa banyaknya nilai-nilai pembentukan karakter yang kudapat. Khususnya nilai yang bersandar pada Pancasila. Ya, inilah yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lainnya. Melalui belajar, kita mengamalkan esensi Ketuhanan dalam menyebarkan dan memajukan ilmu untuk umat-Nya, esensi kemanusiaan untuk membentuk manusia yang beradab dan senantiasa menegakkan keadilan. Ilmu pun juga mengajarkan bahwa dengan bersatu, manusia mampu menaklukkan hal yang sangat sulit sekalipun. Akhirnya, ilmu dan pembelajaran akan membentuk suatu negara yang demokratis, di mana di dalamnya setiap pendapat rakyat yang diwakili sekalipun dipandang dan dihargai. 
            Sudahkah setiap guru di sekolah berusaha mewujudkan hal tersebut? Karena kerap kali, dengan kurikulum baru yang telah diterapkan, seorang guru lebih gencar menyelesaikan materi dibanding memberi pemahaman yang proporsional pada murid-murid. Jadi, saran saya sebaiknya, guru harus mampu memandang dan mengukur kemampuan seorang murid. Dengan demikian, Ia mampu membentuk silabus pengajaran yang pantas untuk murid-muridnya. Seperti anak didik kelas 2 SD, tentu hal yang merepotkan bila guru menekankan pada inisiatif anak untuk mencari tahu sendiri hal-hal yang baru dikenalnya. Sebelum menginjak usia dewasa, sebagian besar murid SD lebih banyak mengandalkan dan meniru contoh-contoh dari kejadian di sekitarnya. Dengan kata lain, mereka masih mudah dimanipulasi/diubah pengertiannya. Jadi, untuk guru-guru, berikanlah contoh yang urut dan mudah dimengerti dalam memberikan pengajaran.  

Sabtu, 01 November 2014



Nama           : Hanson Abraham
NIM             : 1801378184
Hari, tanggal: Rabu, 29 Oktober 2014
Kegiatan      : Bimbingan Belajar

 4 yang Unik




Hari ke-4, tak terasa…Begitu cepat waktu berlalu. Hanya 2 pertemuan lagi tersisa…ya itulah yang mendorongku untuk terus mengajar Nadya dengan baik. Walau langit sedang tak bersahabat, aku bersyukur disempatkan sampai pada kampus sebelum hujan.
Sesampai ku di sana, barisan para peserta bimbingan belajar juga dipindahkan ke bagian dalam anggrek di depan lobi perpustakaan karena langit terlihat semakin mendung. Seperti biasa, aku mencari Nadya untuk membimbingnya sesuai arahan volunteer TFI. Kali ini, kami menempati ruangan 525. Ruangan yang cukup tinggi di atas, sehingga kami bergantian memakai lift. Nadya masih terlihat gugup denganku, terlihat dari tingkahnya yang menggenggam erat tangan teman baiknya itu. Sampai-sampai aku mengenal juga nama teman baiknya itu.
Setelah memasuki ruangan, aku berusaha menciptakan suasana bersahabat. Namun, kelihatannya gagal. Nadya masih terlihat gugup. Aku sengaja menempatkannya duduk dekat teman baiknya agar Ia relax dengan pengajaranku. Tanpa berlama-lama lagi, aku memulai pelajaran dengan memberikannya catatan mengenai objek-objek sederhana. Aku meminta Nadya untuk membuat catatan mengenai hal-hal yang telah kuajarkan, karena ternyata Nadya tak mampu mengingat beberapa pengajaran yang sangat vital. Setelah membuat catatan, aku memberikannya latihan untuk review dari pertemuan pertama kami. Kali ini, aku memberikannya cukup banyak catatan dan latihan. Selama latihan itu, terdapat kemajuan yang sangat pesat. Kekurangannya dalam pengurangan dan pembagian sudah teratasi. Nadya begitu mudah mengerjakan soal-soal ku. Namun, sekarang kekurangannya terletak pada pengenalan objek. Ia masih kurang mampu menggambar dan menghafal nama objek-objek tersebut. Aku membimbingnya dan memberi cara-cara mudah untuk menggambar objek-objek yang masih terlihat sangat asing itu baginya.

1 jam berlalu, kami menyudahi pelajaran matematika dan berlanjut ke mata pelajaran Bahasa Inggris. Nadya terlihat lelah, aku mengajaknya untuk minum bersama dan beristirahat sejenak. Selama beristirahat, Ia memperhatikan teman baiknya itu yang sedang diajarkan matematika. Selesai beristirahat, aku melihat buku catatan Bahasa Inggris milik Nadya. Hmm..sudah banyak vocabulary yang telah dipelajari. Namun, ternyata Nadya tak mampu membacakannya dengan benar. Aku membantunya dengan memberikan catatan cara membaca vocabulary. Nadya sangat malu berbicara pada ku, sehingga sulit juga untuk memintanya mengikuti cara baca ku dalam membaca- vocab.-vocab. yang sulit. Aku juga mengajarkannya membaca huruf alfabet dalam bahasa Inggris dan angka dari 11 sampai 20 beserta cara bacanya.
            Tiap-tiap pertemuan terasa berkesan untuk ku. Aku senang mampu mengajarkan seorang anak dengan baik. Hitung-hitung berlatih untuk bersabar dan menyederhanakan masalah agar sang anak lebih muda mengerti. Sebenarnya, sebelum pertemuan aku merasa sangat malas menjalankan tugas mengajar ini. Namun, aku tidak boleh egois karena kalau aku yang tak datang, tak ada yang mengajarkan Nadya.
            Sejak pertemuan pertama, Nadya adalah anak yang cerdas dan berpotensi. Aku berpikir, bahwa di dunia tak ada yang tak berguna. Sekecil apapun peran seseorang atau sebodoh apapun Ia, pengolahan dan pengarahan yang benar mampu membuat perubahan besar dalam dirinya. Itulah mengapa, kesejahteraan sosial yang terkandung dalam UUD 1945 perlu untuk setiap masyarakat bahkan individual. Dengan keadaan lingkungan dan ekonomi yang optimal, diharapkan individu mampu mengembangkan potensi-potensi nya dalam setiap kesempatan yang ada. Mengajar adalah salah satu cara menyalurkan nilai kebenaran sementara di dalam kebenaran terkandung keadilan yang akan mempertahankan berdirinya kebenaran itu. Sayang, Indonesia masih kurang mampu mengenal esensi Pancasila pada tiap sila-silanya. Aku senang menjadi bagian dari program bimbingan belajar yang mungkin saja awal dari Pancasila yang diterapkan secara benar.