Jumat, 10 Oktober 2014



Nama           : Hanson Abraham
NIM             : 1801378184
Hari, tanggal: Rabu, 8 Oktober 2014
Kegiatan      : Bimbingan Belajar



Hari dan Pengalaman Pertama Mengajar

Waktu menunjukkan Pk 15.00, aku dan kelompok ku sudah bersiap-siap di lobi perpustakaan kampus Anggrek, Binus untuk melaksanakan tugas(CB) Character Building kami, yaitu bimbingan belajar. Ini pertama kalinya aku menjalankan tugasku sebagai pengajar. Untuk membekali ku, seorang volunteer mengadakan briefing bagi pengajar yang baru pertama kali datang (karena sebenarnya, program bimbingan belajar sudah dimulai sejak Rabu, 1 Oktober 2014). Setelah briefing, aku dan kelompok ku beserta kelompok lain dan peserta bimbingan belajar TFI(Teach For Indonesia) yang terdiri dari kelas 2, 5 SD, dan juga beberapa murid SMP segera diarahkan ke ruang kelas masing-masing untuk memulai program bimbingan belajar ini.
Peserta sangat didominasi oleh siswa SD sehingga sebagian besar volunteer sibuk mengurusi ruang kelas mereka sementara para murid SMP belajar di lobi depan kelas. Aku dan kelompok ku mendapatkan ruang no. 402 dengan pesertanya, kelas 2 SD. Kami dan para peserta dipersilakan memasuki ruangan. Karena ada beberapa pengajar dari kelas CB yang baru mengajar minggu ini, maka kami diminta untuk menunggu di depan sambil volunteer TFI memilihkan murid untuk kami. Di saat itulah, kami sekelompok harus berpisah karena harus mengajar anak-anak yang berbeda. Tiba-tiba 2 orang anak SD dipilih untuk ku, dengan sangat canggung, aku memulai pembicaraan dengan bertanya,”Mau duduk disebelah mana nih…?”. Dengan canggungnya, aku memilih tempat duduk bagian belakang dan mengatur tempat itu agar mudah mengajarkan mereka. Terlihat, mereka juga sangat gugup dengan ku karena baru pertama kali berkenalan. Karena begitu gugupnya, aku tak sempat menanyai nama mereka pertama kali, malahan aku langsung saja mengarah ke intinya dengan bertanya,”Ayo, mau belajar apa nih…?”. Lalu, mereka mengeluarkan buku matematika mereka dan aku langsung tahu apa yang ingin mereka pelajari. Aku memulai pengajaran dengan menanyakan,”Ada PR mat. atau ada yang bingung dan susah….?”. Kebetulan, muridku memiliki karakter yang sangat berbeda. Yang bertubuh kecil, sangat bersemangat dan banyak bicara sementara yang satu lagi berwajah serius dan jarang tertawa. Setelah selang waktu lebih kurang 30 menit, anak didik ku yang bertubuh kecil ternyata sudah mempunyai pengajar dari minggu lalu. Segera, setelah pengajarnya siap, Ia berpisah meninggalkan kami berdua. Ia melanjutkan pembelajarannya di bagian depan kelas.
Aku hanya mengingat 1 anak didik ku yang tersisa bernama, Nadia Nur Aqila dari SDN Kemanggisan 10 Pagi. Aku mengajarkannya mulai dari perkalian, penjumlahan, dan pengurangan, lalu mencoba melatih penalarannya dengan mencampurkan itu semua ke dalam 1 soal. Untuk anak seangkatannya, Nadia sangat mahir dalam penjumlahan, tetapi mempunyai kekurangan pada bagian pengurangan. Aku memberi berbagai tips agar mudah mengerjakan soal yang sulit. Ternyata tak mudah, selain gugup aku juga bingung harus memberi pemahaman seperti apa agar tips yang kuberikan mudah dimengerti dan dihafal.
Selama hampir 1 setengah jam, aku menyelingi pembelajaran dengan sharing-sharing pengalamannya di sekolah, teman-temannya.  Hampir semua aspek kehidupannya mungkin sudah kutanyakan, tetapi dia sangat pemalu. Aku jadi bingung dan merasa canggung pula. Untuk mengevaluasi apa yang sudah kuajarkan, aku memberi 10 soal matematika terakhir yang harus Ia kerjakan. Selang 20 menit, ia selesai mengerjakannya dan aku pun memeriksanya. Nilai 10 untuk Nadia, aku tak menyangka bahwa Ia mampu menangkap cepat pembelajaran yang telah diberikan.
Waktu bimbingan belajar hampir usai, jam telah menunjukkan Pk 17.00. Sebelum selesai, aku memberinya PR Inggris yaitu vocabulary beberapa benda tertentu sebanyak 3 soal. Setelah bimbingan belajar selesai, peserta diabsen via nametag yang mereka kalungkan lalu boleh meninggalkan ruangan. Volunteer menghimbau agar para pengajar mendampingi anak didik mereka sampai bertemu orang tua nya yang telah menunggu di dekat basement parker kendaraan.
Aku sempat bangga bahwa Nadia mampu menjawab 10 soal matematika ku. Aku berharap, Ia mampu mengasah tajam kemampuannya dalam matematika juga bahasa Inggris nya. Menurutku, semua hal selama pengajaran sangat berkesan. TFI memberikan pengalaman berharga bagi orang yang pemalu sepertiku dilatih untuk menjadi pengajar. Pengajar adalah pekerjaan yang mulia, untuk mencerdaskan dan memajukan kehidupan bangsa Indonesia yang sedang berharap akan adanya bimbingan belajar gratis seperti ini.
Bila dikaitkan dengan Pancasila, nilai yang dapat kuambil ialah, Sila kedua,”Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Kita harus adil dalam menebar benih pendidikan bagi masyarakat agar kelak mereka menjadi manusia yang beradab dan berakhlak mulia dan demi terciptanya sila kelima,”Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.

                       
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar