Nama : Hanson Abraham
NIM
: 1801378184
Hari, tanggal: Rabu, 8 Oktober 2014
Kegiatan : Bimbingan Belajar
Hari dan Pengalaman Pertama Mengajar

Waktu menunjukkan Pk 15.00, aku dan kelompok ku
sudah bersiap-siap di lobi perpustakaan kampus Anggrek, Binus untuk
melaksanakan tugas(CB) Character Building
kami, yaitu bimbingan belajar. Ini pertama kalinya aku menjalankan tugasku
sebagai pengajar. Untuk membekali ku, seorang volunteer mengadakan briefing bagi pengajar yang baru pertama
kali datang (karena sebenarnya, program bimbingan belajar sudah dimulai sejak
Rabu, 1 Oktober 2014). Setelah briefing,
aku dan kelompok ku beserta kelompok lain dan peserta bimbingan belajar
TFI(Teach For Indonesia) yang terdiri dari kelas 2, 5 SD, dan juga beberapa
murid SMP segera diarahkan ke ruang kelas masing-masing untuk memulai program
bimbingan belajar ini.
Peserta sangat didominasi oleh siswa SD sehingga
sebagian besar volunteer sibuk mengurusi ruang kelas mereka sementara para
murid SMP belajar di lobi depan kelas. Aku dan kelompok ku mendapatkan ruang
no. 402 dengan pesertanya, kelas 2 SD. Kami dan para peserta dipersilakan
memasuki ruangan. Karena ada beberapa pengajar dari kelas CB yang baru mengajar
minggu ini, maka kami diminta untuk menunggu di depan sambil volunteer TFI
memilihkan murid untuk kami. Di saat itulah, kami sekelompok harus berpisah
karena harus mengajar anak-anak yang berbeda. Tiba-tiba 2 orang anak SD dipilih
untuk ku, dengan sangat canggung, aku memulai pembicaraan dengan bertanya,”Mau
duduk disebelah mana nih…?”. Dengan canggungnya, aku memilih tempat duduk
bagian belakang dan mengatur tempat itu agar mudah mengajarkan mereka.
Terlihat, mereka juga sangat gugup dengan ku karena baru pertama kali
berkenalan. Karena begitu gugupnya, aku tak sempat menanyai nama mereka pertama
kali, malahan aku langsung saja mengarah ke intinya dengan bertanya,”Ayo, mau
belajar apa nih…?”. Lalu, mereka mengeluarkan buku matematika mereka dan aku
langsung tahu apa yang ingin mereka pelajari. Aku memulai pengajaran dengan
menanyakan,”Ada PR mat. atau ada yang bingung dan susah….?”. Kebetulan, muridku
memiliki karakter yang sangat berbeda. Yang bertubuh kecil, sangat bersemangat
dan banyak bicara sementara yang satu lagi berwajah serius dan jarang tertawa.
Setelah selang waktu lebih kurang 30 menit, anak didik ku yang bertubuh kecil
ternyata sudah mempunyai pengajar dari minggu lalu. Segera, setelah pengajarnya
siap, Ia berpisah meninggalkan kami berdua. Ia melanjutkan pembelajarannya di
bagian depan kelas.
Aku hanya mengingat 1 anak didik ku yang tersisa
bernama, Nadia Nur Aqila dari SDN Kemanggisan 10 Pagi. Aku mengajarkannya mulai
dari perkalian, penjumlahan, dan pengurangan, lalu mencoba melatih penalarannya
dengan mencampurkan itu semua ke dalam 1 soal. Untuk anak seangkatannya, Nadia
sangat mahir dalam penjumlahan, tetapi mempunyai kekurangan pada bagian
pengurangan. Aku memberi berbagai tips agar mudah mengerjakan soal yang sulit.
Ternyata tak mudah, selain gugup aku juga bingung harus memberi pemahaman
seperti apa agar tips yang kuberikan mudah dimengerti dan dihafal.
Selama hampir 1 setengah jam, aku menyelingi
pembelajaran dengan sharing-sharing pengalamannya di sekolah,
teman-temannya. Hampir semua aspek
kehidupannya mungkin sudah kutanyakan, tetapi dia sangat pemalu. Aku jadi
bingung dan merasa canggung pula. Untuk mengevaluasi apa yang sudah kuajarkan,
aku memberi 10 soal matematika terakhir yang harus Ia kerjakan. Selang 20
menit, ia selesai mengerjakannya dan aku pun memeriksanya. Nilai 10 untuk
Nadia, aku tak menyangka bahwa Ia mampu menangkap cepat pembelajaran yang telah
diberikan.
Waktu bimbingan belajar hampir usai, jam telah
menunjukkan Pk 17.00. Sebelum selesai, aku memberinya PR Inggris yaitu vocabulary beberapa benda tertentu
sebanyak 3 soal. Setelah bimbingan belajar selesai, peserta diabsen via nametag
yang mereka kalungkan lalu boleh meninggalkan ruangan. Volunteer menghimbau
agar para pengajar mendampingi anak didik mereka sampai bertemu orang tua nya
yang telah menunggu di dekat basement
parker kendaraan.
Aku sempat bangga bahwa Nadia mampu menjawab 10 soal
matematika ku. Aku berharap, Ia mampu mengasah tajam kemampuannya dalam
matematika juga bahasa Inggris nya. Menurutku, semua hal selama pengajaran
sangat berkesan. TFI memberikan pengalaman berharga bagi orang yang pemalu
sepertiku dilatih untuk menjadi pengajar. Pengajar adalah pekerjaan yang mulia,
untuk mencerdaskan dan memajukan kehidupan bangsa Indonesia yang sedang
berharap akan adanya bimbingan belajar gratis seperti ini.
Bila dikaitkan dengan Pancasila, nilai yang dapat
kuambil ialah, Sila kedua,”Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Kita harus adil
dalam menebar benih pendidikan bagi masyarakat agar kelak mereka menjadi
manusia yang beradab dan berakhlak mulia dan demi terciptanya sila kelima,”Keadilan
Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar