Minggu, 26 Oktober 2014



Nama           : Hanson Abraham
NIM             : 1801378184
Hari, tanggal: Rabu, 22 Oktober 2014
Kegiatan      : Bimbingan Belajar


3 dari Tak Diketahui
            Dengan tergesa-gesa, aku menuju lobi depan perpustakaan. Aku pikir, aku akan telat untuk ikut bimbingan belajar. Syukurlah, para peserta bimbingan belajar masih berbaris dengan rapi. Wajah mereka yang terlihat polos membawa ingatan ku ke masa kecil dulu.
            Aku menatap anak didik ku. Dia tidak membalas. Sudah pertemuan ketiga, tetapi rasa gugup masih ada di hati nya, sedangkan aku sudah terbiasa dan mulai akrab dengannya. Tanpa berlama-lama, para volunteer Character Building dan peserta bimbingan belajar berjalan menuju ruangannya masing-masing. Kebetulan, anak didik ku mendapat ruang no. 325. Ruangan yang baru bagiku dan pesera bimbingan belajar, karena adanya meja panjang dan bangku sofa. Kami menjadi semakin nyaman mengikuti program ini. Aku tidak sempat melihat anggota kelompok ku yang lain. Sejak minggu lalu, ruangan antar anggota kelompok yang sama dipisah satu sama lain. Jam mengajar pun dimulai. Aku berusaha bersikap biasa saja walau saat itu sedang tidak mood, tapi kita harus bersikap professional bukan?


            Seperti biasa, Nadya memilih tempat duduk yang dekat dengan temannya. Sebenarnya sedikit kurang  nyaman mendapat posisi duduk seperti itu, tetapi aku biarkan untuk mengurangi ketegangannya terhadap ku. Sebelum aku bisa mengajar, seorang volunteer Teach for Indonesia (TFI) mendatangi tempat duduk kami berdua. Ketika melihat Nadya lebih banyak mengobrol disbanding mendengarkan aku, kakak itu menyuruh kami berdua untuk pindah tempat duduk. Saat itu, kami berdua jadi tidak enak satu sama lain. Walau Nadya menjadi lebih berfokus padaku, suasana menjadi tegang dan aneh. Nadya sempat melempar pandangan pada temannya yang sekarang berada di sebelah ku dengan ekspresi seolah takut kehilangan. Aku tersenyum dan memakai suara lembut saja untuk menghasilkan suasana yang bersahabat.
            Setelah browsing materi-materi mata pelajaran matematika kelas II SD dengan standar kompetensi 2013, ternyata selain materi pertambahan sampai perkalian terdapat materi pengenalan objek sederhana juga. Aku memberi latihan pada Nadya sebagai review materi minggu lalu. Ada beberapa yang Ia bisa dan ada pula yang sudah lupa. Setelah review, aku mengenalkan beberapa objek sederhana seperti lingkaran, persegi panjang, dan lain sebagainya. Untuk memudahkan pemahamannya, aku memberi contoh dengan objek seperti penghapus, jendela, dan lain-lain. Sejak pelajaran “semi-matematika-menggambar” itu, Nadya menjadi lebih santai dan akrab dengan ku. Ia terlihat menikmati pengajaran ku. Untuk memantapkan pengenalan objek tersebut dan materi pembagian, aku memberinya latihan untuk menggambar objek yang kuminta tanpa melihat gambar ku dan beberapa soal pembagian yang sederhana.
            Terdapat banyak kesulitan juga dalam pengajaran ini. Yang tersulit adalah bagaimana seorang anak kelas II SD dengan kosa kata yang belum sempurna harus belajar dari penjelasan dengan kosa kata yang sulit. Terkadang, aku lelah juga mengingatkannya cara-cara terdahulu yang pernah ku ajarkan. Namun, kesukaannya dalam matematika membuatku tersadar untuk terus menggali dan mengembangkan kegemarannya itu. Alhasil, aku kembali semangat dalam mengajar.
            Satu jam telah kami isi dengan berbagai latihan pembagian, menggambar berbagai objek sederhana, dan penerapan objek sederhana itu sendiri. Selain itu, aku juga sempat mengajarkan suatu deret bilangan dengan pola tertentu. Awalnya, aku berpikir akan sulit untuknya, ternyata mudah diserap dengan baik oleh Nadya. Ia mampu menebak angka berikut yang ditanyakan.
Usai belajar matematika, Nadya terlihat lelah, aku mengajaknya untuk beristirahat dan minum bersama. Sembari beristirahat, aku menanyakan berbagai pengalaman di sekolahnya, guru-guru, dan pelajarannya. Ia terlihat masih malu-malu. Aku pun juga sharing tentang kejadian yang terjadi di sekolah ku dulu.
            Setelah selesai beristirahat, tadinya aku ingin mengajarkan pelajaran Inggris tapi terlihat membosankan kalau hanya Inggris saja. Aku pun menggabungkan pelajaran matematika dan Inggris. Jadi, aku meminta Nadya untuk menerjemahkan pertambahan sampai pembagian sederhana menjadi kalimat dalam bahasa Inggris. Aku membantunya dalam kosa kata yang baru seperti plus, minus, equals, multiplied by, divided by. Ia mengerjakan dengan tenang dan memberi hasil yang mengejutkan. Ia cepat sekali menangkap pelajaran ini. Di waktu yang tersisa sebelum pulang, aku memberikan kosa kata Inggris dari objek-objek sederhana yang telah dipelajarinya tadi. Namun sayangnya, aku lupa bahasa Inggris dari beberapa objek-objek tersebut. Aku berjanji padanya, aku akan mencari lagi kosa kata itu dan memberitahu nya minggu depan. Tak lama setelah itu, para peserta bimbingan belajar dipanggil untuk menerima nametag dan bersiap-siap pulang.
            Nadya selalu memberikan hasil-hasil yang mengejutkan sekaligus membanggakan sekalipun Ia diperhadapkan pada soal-soal yang sulit. Namun, tak jarang aku merasa bingung padanya. Karena, kalau ada soal yang Ia tak bisa, Ia gugup untuk bertanya padaku, tapi hari ini kami berdua mulai akrab dan Ia pun ber- inisiatif bertanya pada ku soal yang kurang jelas.
            Apapun dan bagaimanapun, seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara sampai pada bidang pendidikan pun tergambar pada nilai-nilai yang dikandung Pancasila. Pendidikan tak hanya membuat manusia menjadi pintar dan sejahtera(pembukaan UUD 1945), tetapi di atas semuanya demi membentuk manusia yang bermoral dan “agamis”(Sila 1 dan sila 2). Ketika keduanya digabungkan, maka akan mampu melahirkan kebijaksanaan.
              

Rabu, 15 Oktober 2014



Foto pertemuan kedua....


Nama           : Hanson Abraham
NIM             : 1801378184
Hari, tanggal: Rabu, 15 Oktober 2014
Kegiatan      : Bimbingan Belajar


Kedua…dimulai
Hari kedua ku dalam melaksanakan bimbingan belajar semakin lancar. Seiring berjalannya waktu, kepercayaan diriku dalam mengajar semakin meningkat. Tak hanya itu, banyak sekali ilmu yang kudapatkan dengan mengajarkan orang lain…
Di pertemuan kedua ini, aku sedikit lesu dan tidak bersemangat. Namun, setelah melihat anak didik ku, Nadya datang dan berbaris bersama teman-temannya di lobi perpustakaan, aku berpikir bahwa demi menjalankan tugas mulia ini, aku tidak boleh egois. Kakak volunteer sempat memberi kami, para pengajar kelas Character Building briefing sekali lagi agar kami tidak melupakan segala peraturan dan ketentuan mengajar yang berlaku. Setelah briefing usai, kami diminta untuk menjemput anak didik kami masing-masing yang sudah berbaris rapi. Aku segera menuju ke barisan Nadya berada dan mengajaknya untuk ikut dengan ku, tetapi (mungkin) dia gugup dan menolak ajakan ku. Aku sempat kebingungan harus berbuat apa. Ingin memaksa, tapi terkesan kasar. Ternyata, ibu nya berdiri tengah berdiri di belakang dan melihat kejadian itu. Sang ibu segera menghampiri kami dan menasehati Nadya agar mau mengikuti kegiatan bimbingan belajar dengan baik. Untunglah Nadya menurut dan mengikuti ku. Ruangan tempat mengajar kami saat itu adalah ruangan no. 314. Beberapa anggota kelompok ku juga mengajar di ruangan yang sama. Terlihat, Nadya masih gugup dan bergandengan tangan dengan sesama nya untuk mengurangi rasa itu  di sepanjang perjalanan kami menuju ruangan kami.
Sampailah kami pada ruangan no. 314. Aku membiarkan Nadya memilih tempat duduk yang nyaman untuk nya. Ternyata, Ia memilih tempat duduk yang dekat dengan teman-temannya. Kebetulan, para pengajar teman-temannya juga merupakan teman-teman yang sudah ku kenal. Aku berpikir bahwa dengan posisi duduk seperti ini, Nadya tidak akan gugup lagi denganku. Setelah kakak volunteer mempersilakan kami untuk memulai bimbingan belajar, aku membukanya dengan perkenalan diri, karena minggu lalu aku lupa melakukannya. Ternyata Nadya masih malu-malu, “Wah…susah juga membuat anak ini percaya diri”, pikirku. Seperti biasa, aku menanyakan apakah Ia mempunya PR atau bagian pelajaran yang tidak Ia mengerti. Dengan malu-malu, Ia mengatakan tidak. Lalu, aku menanyakan lagi tentang sejauh apa materi yang telah diajarkan di sekolah. Untuk mengurangi rasa malunya, Ia menatap temannya sambil tersenyum dan menjawab, “Ngga tau..”. Aku sempat bingung juga ingin mengajarkan apa kepadanya hari ini. Aku segera mengambil keputusan untuk memberi nya review materi minggu lalu dengan 5 soal. Aku sempat memberitahu nya, “Kalo ada yang bingung atau ga’ bisa, tanya kakak aja ya”. Ia tidak menjawab, mungkin masih grogi. Dalam mengerjakan soal-soal yang kuberikan, perhatiannya sempat teralihkan oleh soal-soal yang dikerjakan teman-temannya. Mungkin karena posisi duduknya berdekatan. Aku sempat berpikir bahwa sulit juga kalau begini. Alhasil, Nadya sangat lama dalam mengerjakan soal-soal ku. Tanpa ambil pusing, aku menanyakan apakah ada yang sulit atau bingung. “Nanti kalau aku hanya membiarkannya sendiri, kepalanya malah pusing”, pikirku. Setelah selesai mengerjakan kelima soal tersebut. Aku memberinya latihan soal lagi untuk memperlancar pengurangan dan perkaliannya. Dalam mengerjakan soal-soal yang kuberi, perhatiannya sering terganggu oleh teman-temannya. Nadya menjadi sangat lambat dalam mengerjakan soal-soal ku, belum lagi rasa grogi dan ketidaklancarannya dalam perkalian dan pengurangan. Walau begitu, aku tetap sabar menunggunya menyelesaikan soal. Kalau terlalu lama, aku membantunya dan berusaha memberi tips perhitungan yang mudah dipahami oleh nya. Yang sangat sulit adalah memberitahu cara berhitung yang sederhana dan sesuai untuknya.
Selama, 1 setengah jam aku mengajarkan Nadya matematika. Mulai dari review materi minggu lalu sampai pada materi baru yaitu pembagian. Sangat sulit untuk mengajarkannya pembagian berhubung perkaliannya yang belum lancar. Aku pun memakai ilustrasi yang menarik dalam pembagian. Ibarat sebuah kue yang dibagi-bagikan, itulah ilustrasi yang kupakai. Ternyata, metode tersebut sangat ampuh. Aku memulai dengan pembagian yang sederhana dan Nadya mampu menghitungnya dengan cepat. Benar-benar suatu kemajuan.
Sisa 30 menit ku isi dengan pelajaran bahasa Inggris. Minggu lalu, aku sempat membuka latihan Inggris di sekolah nya untuk mencari tahu, kira-kira sudah diajarkan sampai mana. Ternyata, banyak juga vocabulary yang telah dipelajari. Setelah “berkonsultasi” dengan teman-temanku, aku memutuskan untuk mengajarinya vocabulary dalam tingkat yang lebih sulit. Aku memberikannya latihan vocab. benda-benda yang mungkin belum diajarkan di sekolah.
Jam bimbingan belajar hampir usai, kami diizinkan untuk mengambil foto kegiatan kami. Aku meminta tolong bantuan temanku untuk mem-foto kami berdua. Nadya terlihat sedikit malu, tetapi mau juga untuk difoto. Description: C:\Users\User 1\Downloads\20141015_164808.jpg
 Sebelum jam pulang, aku memberi Nadya PR Inggris tentang benda-benda langit. Aku harap Ia mampu mengerjakannya dan menghafalnya semua vocab. yang telah kuajarkan.
Seperti yang telah ku tulis di paragraf awal, hari ini berjalan lancar. Semula aku yang tidak bersemangat menjadi antusias dalam mengajarkan. Entah kenapa, aku semakin sayang pada Nadya, seperti punya anak sendiri. Sayang, di akhir aku tak sempat menemaninya menemui orang tuanya karena harus mengikuti evaluasi volunteer dari kelas character building.
Aku benar-benar bangga bisa melakukan tugas mulia ini. Pengajaran ini mungkin saja langkah pertama perubahanku dan perubahan negara Indonesia. Pancasila saja tak cukup bila tak dilakukan. Aku merasakan setiap sila itu berlaku dalam segala aspek kehidupan dan dalam hal ini, sila kedua, ketiga, dan kelima sangat kental dalam hal pengajaran. Keadilan, itulah yang dibutuhkan mereka yang haus akan kebenaran. Persatuan demi kekompakan dalam memajukan bangsa ini, dan keberadaban manusia untuk saling menghargai dan tanah bagi tumbuhnya kepedulian kepada sesama.

 

Jumat, 10 Oktober 2014



Nama           : Hanson Abraham
NIM             : 1801378184
Hari, tanggal: Rabu, 8 Oktober 2014
Kegiatan      : Bimbingan Belajar



Hari dan Pengalaman Pertama Mengajar

Waktu menunjukkan Pk 15.00, aku dan kelompok ku sudah bersiap-siap di lobi perpustakaan kampus Anggrek, Binus untuk melaksanakan tugas(CB) Character Building kami, yaitu bimbingan belajar. Ini pertama kalinya aku menjalankan tugasku sebagai pengajar. Untuk membekali ku, seorang volunteer mengadakan briefing bagi pengajar yang baru pertama kali datang (karena sebenarnya, program bimbingan belajar sudah dimulai sejak Rabu, 1 Oktober 2014). Setelah briefing, aku dan kelompok ku beserta kelompok lain dan peserta bimbingan belajar TFI(Teach For Indonesia) yang terdiri dari kelas 2, 5 SD, dan juga beberapa murid SMP segera diarahkan ke ruang kelas masing-masing untuk memulai program bimbingan belajar ini.
Peserta sangat didominasi oleh siswa SD sehingga sebagian besar volunteer sibuk mengurusi ruang kelas mereka sementara para murid SMP belajar di lobi depan kelas. Aku dan kelompok ku mendapatkan ruang no. 402 dengan pesertanya, kelas 2 SD. Kami dan para peserta dipersilakan memasuki ruangan. Karena ada beberapa pengajar dari kelas CB yang baru mengajar minggu ini, maka kami diminta untuk menunggu di depan sambil volunteer TFI memilihkan murid untuk kami. Di saat itulah, kami sekelompok harus berpisah karena harus mengajar anak-anak yang berbeda. Tiba-tiba 2 orang anak SD dipilih untuk ku, dengan sangat canggung, aku memulai pembicaraan dengan bertanya,”Mau duduk disebelah mana nih…?”. Dengan canggungnya, aku memilih tempat duduk bagian belakang dan mengatur tempat itu agar mudah mengajarkan mereka. Terlihat, mereka juga sangat gugup dengan ku karena baru pertama kali berkenalan. Karena begitu gugupnya, aku tak sempat menanyai nama mereka pertama kali, malahan aku langsung saja mengarah ke intinya dengan bertanya,”Ayo, mau belajar apa nih…?”. Lalu, mereka mengeluarkan buku matematika mereka dan aku langsung tahu apa yang ingin mereka pelajari. Aku memulai pengajaran dengan menanyakan,”Ada PR mat. atau ada yang bingung dan susah….?”. Kebetulan, muridku memiliki karakter yang sangat berbeda. Yang bertubuh kecil, sangat bersemangat dan banyak bicara sementara yang satu lagi berwajah serius dan jarang tertawa. Setelah selang waktu lebih kurang 30 menit, anak didik ku yang bertubuh kecil ternyata sudah mempunyai pengajar dari minggu lalu. Segera, setelah pengajarnya siap, Ia berpisah meninggalkan kami berdua. Ia melanjutkan pembelajarannya di bagian depan kelas.
Aku hanya mengingat 1 anak didik ku yang tersisa bernama, Nadia Nur Aqila dari SDN Kemanggisan 10 Pagi. Aku mengajarkannya mulai dari perkalian, penjumlahan, dan pengurangan, lalu mencoba melatih penalarannya dengan mencampurkan itu semua ke dalam 1 soal. Untuk anak seangkatannya, Nadia sangat mahir dalam penjumlahan, tetapi mempunyai kekurangan pada bagian pengurangan. Aku memberi berbagai tips agar mudah mengerjakan soal yang sulit. Ternyata tak mudah, selain gugup aku juga bingung harus memberi pemahaman seperti apa agar tips yang kuberikan mudah dimengerti dan dihafal.
Selama hampir 1 setengah jam, aku menyelingi pembelajaran dengan sharing-sharing pengalamannya di sekolah, teman-temannya.  Hampir semua aspek kehidupannya mungkin sudah kutanyakan, tetapi dia sangat pemalu. Aku jadi bingung dan merasa canggung pula. Untuk mengevaluasi apa yang sudah kuajarkan, aku memberi 10 soal matematika terakhir yang harus Ia kerjakan. Selang 20 menit, ia selesai mengerjakannya dan aku pun memeriksanya. Nilai 10 untuk Nadia, aku tak menyangka bahwa Ia mampu menangkap cepat pembelajaran yang telah diberikan.
Waktu bimbingan belajar hampir usai, jam telah menunjukkan Pk 17.00. Sebelum selesai, aku memberinya PR Inggris yaitu vocabulary beberapa benda tertentu sebanyak 3 soal. Setelah bimbingan belajar selesai, peserta diabsen via nametag yang mereka kalungkan lalu boleh meninggalkan ruangan. Volunteer menghimbau agar para pengajar mendampingi anak didik mereka sampai bertemu orang tua nya yang telah menunggu di dekat basement parker kendaraan.
Aku sempat bangga bahwa Nadia mampu menjawab 10 soal matematika ku. Aku berharap, Ia mampu mengasah tajam kemampuannya dalam matematika juga bahasa Inggris nya. Menurutku, semua hal selama pengajaran sangat berkesan. TFI memberikan pengalaman berharga bagi orang yang pemalu sepertiku dilatih untuk menjadi pengajar. Pengajar adalah pekerjaan yang mulia, untuk mencerdaskan dan memajukan kehidupan bangsa Indonesia yang sedang berharap akan adanya bimbingan belajar gratis seperti ini.
Bila dikaitkan dengan Pancasila, nilai yang dapat kuambil ialah, Sila kedua,”Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Kita harus adil dalam menebar benih pendidikan bagi masyarakat agar kelak mereka menjadi manusia yang beradab dan berakhlak mulia dan demi terciptanya sila kelima,”Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.