Nama : Hanson Abraham
NIM
: 1801378184
Hari, tanggal: Rabu, 29 Oktober 2014
Kegiatan : Bimbingan Belajar
4 yang Unik
Hari ke-4, tak terasa…Begitu cepat waktu berlalu.
Hanya 2 pertemuan lagi tersisa…ya itulah yang mendorongku untuk terus mengajar
Nadya dengan baik. Walau langit sedang tak bersahabat, aku bersyukur
disempatkan sampai pada kampus sebelum hujan.
Sesampai ku di sana, barisan para peserta bimbingan
belajar juga dipindahkan ke bagian dalam anggrek di depan lobi perpustakaan
karena langit terlihat semakin mendung. Seperti biasa, aku mencari Nadya untuk
membimbingnya sesuai arahan volunteer
TFI. Kali ini, kami menempati ruangan 525. Ruangan yang cukup tinggi di atas,
sehingga kami bergantian memakai lift.
Nadya masih terlihat gugup denganku, terlihat dari tingkahnya yang menggenggam
erat tangan teman baiknya itu. Sampai-sampai aku mengenal juga nama teman
baiknya itu.
Setelah memasuki ruangan, aku berusaha menciptakan
suasana bersahabat. Namun, kelihatannya gagal. Nadya masih terlihat gugup. Aku
sengaja menempatkannya duduk dekat teman baiknya agar Ia relax dengan pengajaranku. Tanpa berlama-lama lagi, aku memulai
pelajaran dengan memberikannya catatan mengenai objek-objek sederhana. Aku
meminta Nadya untuk membuat catatan mengenai hal-hal yang telah kuajarkan,
karena ternyata Nadya tak mampu mengingat beberapa pengajaran yang sangat
vital. Setelah membuat catatan, aku memberikannya latihan untuk review dari pertemuan pertama kami. Kali
ini, aku memberikannya cukup banyak catatan dan latihan. Selama latihan itu,
terdapat kemajuan yang sangat pesat. Kekurangannya dalam pengurangan dan
pembagian sudah teratasi. Nadya begitu mudah mengerjakan soal-soal ku. Namun,
sekarang kekurangannya terletak pada pengenalan objek. Ia masih kurang mampu
menggambar dan menghafal nama objek-objek tersebut. Aku membimbingnya dan
memberi cara-cara mudah untuk menggambar objek-objek yang masih terlihat sangat
asing itu baginya.
1 jam berlalu, kami menyudahi pelajaran matematika
dan berlanjut ke mata pelajaran Bahasa Inggris. Nadya terlihat lelah, aku
mengajaknya untuk minum bersama dan beristirahat sejenak. Selama beristirahat,
Ia memperhatikan teman baiknya itu yang sedang diajarkan matematika. Selesai
beristirahat, aku melihat buku catatan Bahasa Inggris milik Nadya. Hmm..sudah
banyak vocabulary yang telah
dipelajari. Namun, ternyata Nadya tak mampu membacakannya dengan benar. Aku
membantunya dengan memberikan catatan cara membaca vocabulary. Nadya sangat malu berbicara pada ku, sehingga sulit
juga untuk memintanya mengikuti cara baca ku dalam membaca- vocab.-vocab. yang sulit. Aku juga mengajarkannya membaca huruf alfabet
dalam bahasa Inggris dan angka dari 11 sampai 20 beserta cara bacanya.
Tiap-tiap pertemuan terasa berkesan
untuk ku. Aku senang mampu mengajarkan seorang anak dengan baik. Hitung-hitung
berlatih untuk bersabar dan menyederhanakan masalah agar sang anak lebih muda
mengerti. Sebenarnya, sebelum pertemuan aku merasa sangat malas menjalankan
tugas mengajar ini. Namun, aku tidak boleh egois karena kalau aku yang tak
datang, tak ada yang mengajarkan Nadya.
Sejak pertemuan pertama, Nadya
adalah anak yang cerdas dan berpotensi. Aku berpikir, bahwa di dunia tak ada
yang tak berguna. Sekecil apapun peran seseorang atau sebodoh apapun Ia,
pengolahan dan pengarahan yang benar mampu membuat perubahan besar dalam
dirinya. Itulah mengapa, kesejahteraan sosial yang terkandung dalam UUD 1945
perlu untuk setiap masyarakat bahkan individual. Dengan keadaan lingkungan dan
ekonomi yang optimal, diharapkan individu mampu mengembangkan potensi-potensi
nya dalam setiap kesempatan yang ada. Mengajar adalah salah satu cara menyalurkan
nilai kebenaran sementara di dalam kebenaran terkandung keadilan yang akan
mempertahankan berdirinya kebenaran itu. Sayang, Indonesia masih kurang mampu
mengenal esensi Pancasila pada tiap sila-silanya. Aku senang menjadi bagian
dari program bimbingan belajar yang mungkin saja awal dari Pancasila yang
diterapkan secara benar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar